BUDIONO tidak terberangkap CONFLIC " IN TEREST atau OUT TEREST "
Krena Budiono tidak mengandung bibit KONFLIKINTERST ataupun OUT EREST maka berkonwensi pada posisi SBY yang akan lebih MUDAH dan bukan " MUDAH-MUDAHAN " menurunkan KETEGANGAN POLITIK dengan Rakyat (namun MUDAH-MUDAHAN dengan Parpol Blok pengusung SBY). Yang menjadi penting apakah SBY akan menempatan kepentingan PARPOL pada SKALA TERTINGGI dari strategi kepemimpinannya kedepan ,maka akan sangat amat jelas dapat kita pantau/nilai/analisa dari strategi penentuan CAWAPRESnya. KOnsekwensi memililih calon wapres dari salah satu partai pengusung (dalam blok SBY) tentunya secara jujur disisi lainnya akan mementahkan dan bahkan lebih jauh akan mementalkan harapan/cita-cita partai sahabt itu. Karena jujur pula kita harus katakan kalau PARPOL sahabat ini juga tetap memendam harapan dan cita-cita JANGKA panjang (mungkin juga jangka pendek/siapa tahu) terkait pentingnya posisi Cawapres bila Presiden berhalangan tetap atau bahkan "mangkat". dikemudian hari.
Jika SBY akhirnya kalah terhadap tekanan politis dari parpol sahabat ini maka dapat di prediksi ,SBY seang?telah MENYEMAI BIBIT KONFLIK di masa datang. Betapa tidak ,kita tahu kalau benar kalau Parttai Demokrat yang baru bertunas ini ,sendi-sendinya masih terlalu lunak bagi Parpol lainnya yang telah banyak makan asam garam. Kesan Sentralistik baik itu Strategy,taktis dan teknis operasional partai Demokrat masih manjadi wewenang dominan SBY. Kaderisasi di tubuh partai ABG (Anak Baru Gede ini) masih belum teruji dan begitu loyalitas pribadi para punggawa partai demokrat terhadap SBY sungguh maasih terlalu pagi untuk kita katakan "setia 100%). Dalamnya sungai bisa di ukur tatpi dalamnya hati siapa tahu??. SBY juga harus sadar kalau Partai demokrat didesain untuk dapat bertahan jauh dari usi SBY sendiri. Bila ini yang menjadi titik penting maka strategy memilih orang Independen seperti BUDIONO adalah jalan tengah.Karena sungguh tidak arif apabila memilih Cawapres yang memendam hasrat tersembunyi (pemerintahan akan labil /tidak stabil). Bibit kelemah lain dari Partai Demokrat adalah "SBY CENTRIS".Ini hanya akan melahirkan Parpol yang BERWAJAH GANDA. Wajah SEKARANG BERHASIL dan WAJAH kedepannya GAGAL. Investasi ORGANIK politik SBY (Anak SBY) di tubuh DEMOKRAT masih MEMBUTUHKAN PERHATIAN dan masih belum bisa MEMBERIKAN PERHATIAN/diandalkan dalam waktu dekat). Kita tahu KARBITISASI terhadap kader organik dengan cara membombardir politik INENTIFIKASI dan plotik OTENTIFIKASI akan semakin tidak mudah kedepan.
Budiono sebagai kader independen sesungguhnya sudah bukan hanya menjadi EKONOM KAMPUS tetapi lebih jauh telah menjadi EKONOM KAMPUNG. Maksudnya, Ekonom KAMPUS makanannyanya bukan BUKU dan tawarannya bukan BUKU pula pada bangsa yang sedang SAKAW ini. Tetapi lebih jauh ia akan mampu menawarkan/memberikan MAKAN/NASI.Inilah esensi dari EKONOM KAMPUNG. Pengalaman di birokrasi pada jaman Megawati dan SBY rasa-rasanya akan dapat menjadi MODAL-MODEL-MODUL serta MODUS bagi Budiono dalam posisinya sebagai Wapres. Sangat dimungkinkan SBY akan berkata "Pak Budiono....negara,membutuhkan anda dan saya harap anda mau bergabung untuk bersama saya memrintah negara ini" .Kurang lebih demikianlah, seperti beberapa kalimat penting yang pernah di ucap SBY ketika bertemu Budiono bandara Sukarno Hatta suatu ketika. Dan apa yang terjadi ?, Budiono MELULUSKAN ajakan/haparam/ajakan SBY, hati BUDIONO "LULUH" dan harapan SBYpun "LULUS". Adakah ini akan terulang?,dimana,kapan??.Hanya mereka berdua yang tahu.
Memilih dan menentujkan Cawapres di tengah KRITIK dan KRISIS sumberdaya yang " JAUH DARI KONFLIK" sama sulitnya dengan bersahabat dengan sumber daya "dekat dengan konflik".
Memilih dan menentukan Budiono sebagai Cawapres SBY merupakan inikator :
-SBY tidak di atur/takluk pada kemauan Parpol (SBY terpilih bukan karena Parpol/tetapi karena rakyat-terpilihnya SBY 2004 bukanlah karena kontribusi PARPOL,tetapi RAKYAT yang telah MUAK terhadap Parpol). Dukungan parpol penting tetapi (prasyarat) tetapi bukan SYARAT UTAMA terpilih menjadi Presiden (apalagi menjadi Presiden yang kuat). Karena PANAS dingin suhu poltik yang mendera parpol-parp[ol ini akan pula membuat Presiden akan PANAS-DINGI dan bisa-bisa NAIK-TURUN.
- SBY percaya diri (NYALI BESAR),percaya pula kalau sistem koalisi benas matang dan tidak setengah matang.
Langkah memilih BUdiono baru dapat dikatakan efektif bila Parpol-parpol TELAH DI IKAT dengan komitmen tertulis, dan bagi partai yang hanya mau diikat tangannya di kawatirnkan kedepan akan "MENENDANG" di tengan lapangan.
- SBY akan menjadi king maker koalisi "The Big King" dan menjadikan/menjinakkan Parpol pengusung menjadi "The Little King". Tepatnya biarkan Parpol ini bermain dalam KANDANG MAS (kandang tapi terbuat dari MAS).
- SBY menemp-atkan dirinya pada posisi DIHARGAI bukai di CURIGAI. Bagaimana tidak di curigai kalau parpol yang mengitari episentrum kekuasan adalah partai dengan label "tertentu". SBY beritikad baik MEYELESAIKAN MASALAH (MENYELESAIKAN MASYALAH TANPA MASALAH).
- SBY telah sukses mempersempit potensi masalah (akibat TERDISPERSI nya parpol-parpol besar menjadi BINTIK-BINTIK Parpol). Karena Parpol-parpol kecil ini sesungguhnya bukanlah parpol hasil MUTASI (parpol yang lahir/pecah menjadi Parpol dengan KODE GENETIK- IDEOLOGI berbeda dari INDUKNYA). Bila ini sukses maka jelas Parpol-parpol pengusung SBY /Koalisi "tempat yang sulit di waktu yang baik". Parpol-parpol kecil yang sibuk BERKELANA di pastikan akan menjadpatkan SANGKAR baru di mana mereka dapat membuang JANGKAR. Membelah konflik papartai-paratai menjadi BELAH SEMANGKA sama pentingnya dengan mempersempit "permasyalahan". Dua KUTUB telah menjelma menjadi DUA KATUB. SBY tidak perlu lagi mengeluarkan DEKRIT (karena ini merupakan "SOFT DECRITE" yang mulus). Ini langkah awal bila yang baik rekonsiliasi (MENANG tanpa ADA YANG HARUS MERASA DIKALAHKAN) atau yang kalah menjadi bagian kemenangan. Ini lah jiwa besar/kebesaran jiwa seorang Jawa. Sehingga Bukan lagi Jawa non JAWA . Kita semua adalah JUARA....Indonesia Juara.....
OLEH:
MAX UMBU
Selasa, 05 Mei 2009
Sabtu, 02 Mei 2009
JK-WIN dlam pelukan KOALISI JUMBO
JK-WIN dlam pelukan KOALISI JUMBO
Jusuf Kalla dan Wiranto akhirnya mampu membuktkan kalau mereka betul-betul tidak main-main. Deklerasi Capres=cawapres pertama dan tercepat seperti apa yang mereka klaim terbukti sudah.Slogan JK-WIN pun mulai santer terdengar disekitar ruang deklerasi. Jusuf kalla dan wiranto KAWIN, Jusuff Kalla KAWIN lagi.Peristiwa ini kontradiktif dengan lagu remaja yang sedang tenar saat ini "PUTUS NYAMBUNG-PUTUS NYAMBUNG LAGI".
Peristiwa ini kontradiktif dengan kelihaian dan kecekatan Kalla bernogosiasi dagang atau politik selama ini. Ia pernah ungkapkan bagaimana seorang "BUGIS" menyelesaikan suatu masalah dengan Negosiasi. I pernah ungkapkan negosia si harus menggunakan 3 ujung ;
Ujung PENA : negosiasi /perjajian tertulis,naun bila tidak berhasil maka di coba coba cara ke 2 : Ujung TOMBAK Ajak lawan Negosiasi yang tidak mau diajak baikan), dan bila cara inijuga tidak berhasil mak seorang putra Bugis akan menggunakan Ujung ke tiga yakni Ujung PENIS.Jangan mesum dulu..Maksudnya terpkasa KAWIN.Kawin adalah solusi perdamaian terbaik. Namun apa yang terjadi belakangan JK, Menempatkan UJUNG TOMBAK sebagai pilhan terakhir danmelupakan KAMIN POLITIK yang sudah cukup lama 4 lebih bersama kekasihnya SBY.
Kalau JK memiliki jurus Negosiasi ala BUGIS tentu ia pasti juga punya JURUS menggunakan UJUNG TOMBAK (Perang Politik nanti di PILPRES). Siapa nanti yang akan menemukan ajal di ujung tombak JK, dan siapa yang akan tunduk berlutut di bawh kaki Wiranto Sang purnawirawn Jenderal yang terkenal Kalam dan Smrt ini???. Tampaknya akan kita saksikan tdk lama lagi. serangan-serangan dan argumen secara logis danrasional sudalh mulai dilontarkan.
Sementara di Kubu CIKEAS/SBY, tampak lebih memilih jalan negosiasi KOALISI MALAM (Diam-diam menusuk). JK-WIN KOALISI siang bolong atau Koalisi TERANG BENDERANG mungkin agar rakyat turut menkmati proses (rakyat juga punya hak cermati langkah calonm mereka?). Mana yang paling benar terseran rakyat. Yang Pasti JK WIN memilih jalan /cara TERANG BENDERANG. Tidak dalam AMPLOP yang menimbulkan kesepakatan dan kesetiaan semu.
Ini Pasangan JAWA luar Jawa, Istri keduanya juga representasi pulau SUMATRA-Padang dan Sulawesi dan Wiranto JAWA -SULAWESI. Anak-anakmereka (JK) menantu JAWA. Wah lengkap. Militer-non militer. Pedagang-Birokrat. Lah apa yang belum lengkap/pas??.Mereka sudah mencoba mengadopsi kebinekaan secara maksimal,tinggal Cares-cawapres lainnya nanti apakah menampik kebinekan ???? Atau malah mencona mendobrak kebinekaan dengan jnji dan harapan kosong marikita lihat. Pemilih Indonesa barat dan Timur tampknya mulai membuat jaringan solidaritas Jaka Win. Lantas KOALISI JUMBO??. Yah tentu harapa koalisi ini harus bisa mencerminkan JUMBONYA .
J= Jujur , U= Utuh (keutuhan), M = Mantab B= Berani dan O= Okkey.
oleh:
MAX UMBU
Jusuf Kalla dan Wiranto akhirnya mampu membuktkan kalau mereka betul-betul tidak main-main. Deklerasi Capres=cawapres pertama dan tercepat seperti apa yang mereka klaim terbukti sudah.Slogan JK-WIN pun mulai santer terdengar disekitar ruang deklerasi. Jusuf kalla dan wiranto KAWIN, Jusuff Kalla KAWIN lagi.Peristiwa ini kontradiktif dengan lagu remaja yang sedang tenar saat ini "PUTUS NYAMBUNG-PUTUS NYAMBUNG LAGI".
Peristiwa ini kontradiktif dengan kelihaian dan kecekatan Kalla bernogosiasi dagang atau politik selama ini. Ia pernah ungkapkan bagaimana seorang "BUGIS" menyelesaikan suatu masalah dengan Negosiasi. I pernah ungkapkan negosia si harus menggunakan 3 ujung ;
Ujung PENA : negosiasi /perjajian tertulis,naun bila tidak berhasil maka di coba coba cara ke 2 : Ujung TOMBAK Ajak lawan Negosiasi yang tidak mau diajak baikan), dan bila cara inijuga tidak berhasil mak seorang putra Bugis akan menggunakan Ujung ke tiga yakni Ujung PENIS.Jangan mesum dulu..Maksudnya terpkasa KAWIN.Kawin adalah solusi perdamaian terbaik. Namun apa yang terjadi belakangan JK, Menempatkan UJUNG TOMBAK sebagai pilhan terakhir danmelupakan KAMIN POLITIK yang sudah cukup lama 4 lebih bersama kekasihnya SBY.
Kalau JK memiliki jurus Negosiasi ala BUGIS tentu ia pasti juga punya JURUS menggunakan UJUNG TOMBAK (Perang Politik nanti di PILPRES). Siapa nanti yang akan menemukan ajal di ujung tombak JK, dan siapa yang akan tunduk berlutut di bawh kaki Wiranto Sang purnawirawn Jenderal yang terkenal Kalam dan Smrt ini???. Tampaknya akan kita saksikan tdk lama lagi. serangan-serangan dan argumen secara logis danrasional sudalh mulai dilontarkan.
Sementara di Kubu CIKEAS/SBY, tampak lebih memilih jalan negosiasi KOALISI MALAM (Diam-diam menusuk). JK-WIN KOALISI siang bolong atau Koalisi TERANG BENDERANG mungkin agar rakyat turut menkmati proses (rakyat juga punya hak cermati langkah calonm mereka?). Mana yang paling benar terseran rakyat. Yang Pasti JK WIN memilih jalan /cara TERANG BENDERANG. Tidak dalam AMPLOP yang menimbulkan kesepakatan dan kesetiaan semu.
Ini Pasangan JAWA luar Jawa, Istri keduanya juga representasi pulau SUMATRA-Padang dan Sulawesi dan Wiranto JAWA -SULAWESI. Anak-anakmereka (JK) menantu JAWA. Wah lengkap. Militer-non militer. Pedagang-Birokrat. Lah apa yang belum lengkap/pas??.Mereka sudah mencoba mengadopsi kebinekaan secara maksimal,tinggal Cares-cawapres lainnya nanti apakah menampik kebinekan ???? Atau malah mencona mendobrak kebinekaan dengan jnji dan harapan kosong marikita lihat. Pemilih Indonesa barat dan Timur tampknya mulai membuat jaringan solidaritas Jaka Win. Lantas KOALISI JUMBO??. Yah tentu harapa koalisi ini harus bisa mencerminkan JUMBONYA .
J= Jujur , U= Utuh (keutuhan), M = Mantab B= Berani dan O= Okkey.
oleh:
MAX UMBU
Rabu, 29 April 2009
QUICK COUNT TERJEBAK KONSPIRASI atau QUICK COUNT MENJEBAK KONSPIRASI
QUICK COUNT TERJEBAK KONSPIRASI atau QUICK COUNT MENJEBAK KONSPIRASI
Pertanyan ini menjadi penting untuk di jawab atau paling tidak kita renungkan.Sadar atau tidak hasil Qc sudah terlanjur melenggang kangkung di gelanggang perpolitikan NAsional.Walau kita tahu tidak semua Lembaga survay memiliki tingkat KETENARAN/Acceptability/daya daterima masayarakat.
Hasil Quick Count boleh dikata telah sukses memberi arah (terlepas benar/tidak) kepada Partai politik dan kalang masyarakat umum. Walau kita tahu secara hukum/legalitas arah ini tidak ber DASAR. Data Dasar QC ini telah lebih jauh SADAR atau tidak telah menjadi RADAR bagi arah koalisi dan arah politik. Sekaligus peiolrh Qc juga sudah menjadi alat PEMIKAT bagi partai lawan dalam koalisi.
Sesungguhnya siapa yang terjebak dan siapa yang terjebak,kita akan tahu setelah hasil perhitungan TABULASI KPU yang masih TABU itu. Bila saja haslinya berbeda nyata maka ,jelas maka korbannya adalah partai dan sekaligus m,asyarakat.
Vonis yang di terima Parpol dan para pendukung, semakin menjadi NYATA ketika dari hari ke hari data tabulasi mandul (tidak menujukkan hasil yang signifikan dari segi jumlah)......Bersambung !!!!!!!
OLeh
MAX UMBU
Pertanyan ini menjadi penting untuk di jawab atau paling tidak kita renungkan.Sadar atau tidak hasil Qc sudah terlanjur melenggang kangkung di gelanggang perpolitikan NAsional.Walau kita tahu tidak semua Lembaga survay memiliki tingkat KETENARAN/Acceptability/daya daterima masayarakat.
Hasil Quick Count boleh dikata telah sukses memberi arah (terlepas benar/tidak) kepada Partai politik dan kalang masyarakat umum. Walau kita tahu secara hukum/legalitas arah ini tidak ber DASAR. Data Dasar QC ini telah lebih jauh SADAR atau tidak telah menjadi RADAR bagi arah koalisi dan arah politik. Sekaligus peiolrh Qc juga sudah menjadi alat PEMIKAT bagi partai lawan dalam koalisi.
Sesungguhnya siapa yang terjebak dan siapa yang terjebak,kita akan tahu setelah hasil perhitungan TABULASI KPU yang masih TABU itu. Bila saja haslinya berbeda nyata maka ,jelas maka korbannya adalah partai dan sekaligus m,asyarakat.
Vonis yang di terima Parpol dan para pendukung, semakin menjadi NYATA ketika dari hari ke hari data tabulasi mandul (tidak menujukkan hasil yang signifikan dari segi jumlah)......Bersambung !!!!!!!
OLeh
MAX UMBU
CAPRES-CAWAPRES INDONESIA
Setiap saat seakan tiada hentinya media pemberitaan membombardir kita dengan pemberitaan terkait manuver politik para politikus,utamanya strategy koalisi antara ke dua blok besar (Teuku umar dan cikeas). Hiruk pikuk ini turut menghiasi dialog-dialog kecil sampai ke gang-gang kecil.initinya membahas suatu strategi dengan dasar yang sungguh tidak didasari oleh data-dat yang boleh dibilng kuat dan sah secara hukum.Yang dimaksud adalah data-data hasil Quick Count sudah menjadi data "SETENGAH LEGAL". Sebagaimana kita tahu sebelum ini Mahkamah Konstitusi memperbolehkan lembaga seperti LSI melakukan kegiatan/mengumumkan data hasil quick count.Maksud dan tujuan dari Quick Count baik,membantu pihak manapun untuk dapat sedini mungkin mengetahui hasil PILEG sehingga bila ada suatu yang kurang tepat dapat sedini mungkin melakukan KOREKSI. Yang menjadi masalah data KPU/TABULASI ataukan data hasil Quick count yang menjadi ALAT KOREKSI!.Berdasarkan hasil/pengalaman lembaga semacam LSI dll, yang mengaku telah berpengalaman ( walaupun kita tahu pengalaman yang dimaksud itu pengalaman PILEG MANA dan KAPAN,besarannya seperti apa/cakupannya ) melakukan QC di beberapa PILKADA. Kita tahu tidak semua lembaga sepertti LSI sukses melakukan QC di beberapa PILKADA (ada juga gagalnya).Sedangkan kita tahu besaran samplelnya, PILKADA jauh lebih kecil jumlah dan keragaman sampelnya dan itupun bisa salah dan apalagi sampai pada tingkat akurasi 1 %.Ini perlu koreksi karena bila tidak maka KESALAHAN akan menjadi KESALEHAN (baik-baik saja) dan bila dibiarkan terus ini akan menjelma menjadi suatu budaya.Budaya baru bagi munculnya DEMOKRASI MINI.Seharusnya kita tahu bahwa proses QC terhadap PILEG NAS, ini bukan main-main,karena RESIKOnya adalah BANGSA (keutuhan bangsa dan negara). Apa yang terjadi Qc seakan menemukan momentumnya ketika PUSAT TABULASI KPU MANDEK? (alias benar-benar TABU untuk dilihat dan lebih jauh di anggap BENAR secara hukum).Ini kah yang dinamakan DEMOKRASI DIPERHAMBA TEKNOLOGI.
Hal lainnya yang patut dipertanyakan dari proses QC ini,tanpa bermaksud kita menampik kemampuan dan pengetahuan lembaga survay itu adalah :
1. Besaran sampel/contoh
2. Jenis sampel
3. Tingkat akurasi/deviasi/error (sungguh berani 1 %?)
4. Analisa keragaman-termasuk sumber data/sortir data dasar. Dari mana data dasar di peroleh LSI? Yang kita tahu berdasarkan pengakuan dari KPU/DEPDAGRI.
Timbul pertanyaan: Bila hasil Qc di anggap benar/dapat diterima, apakah itu berati data dasarnya benar (termasuk sumber data,bagaimana mendapatkan data,dengan apa mendapatkan data?) .Sebab yang menarik adalah BILA DATA DPS dan DPT itu betul/faktawi sudah mengalami MUTILASI,CANGKOKAN atau istilah apapun namanya ,mungkinkah hasil QC dapat di percaya????. Ataukah kebenaran itu hanya didasarkan pada keberhasilan historical semata (PILKADA dan PEMILU 2004?.) Apakah pengalaman yang secuil inikah yang dimaksud dengan kebenaran???. Cilakanya ats bantuan media masa terutama media TV,pembentukan OPINI yang gencar terus nmmencecar para pemirsa dan bahkan POLITIKUS pun TERMAKAN hasil survay ini. Ini sangat amat mengenaskan,bagaimana para caleg yang terhormat dan para pemimpin parpol ,termasuk pembinanya, mempercayai 100 % (sec tidak resmi ) mendasarkan diri pada hasil QC.
HAsil Qc inilah yang menjadi pemicu dan pemacu awal kekirsuhan dan kegaduh politik di tanah air.Dengan dasar itu pula Partai politik dan para politikus mulai melakukan RONDA POLITIK. Bagi-bagi kuweh, koalisi sini,koalisi sana,blok sana sini sambil TERUS BERHARAP (berdoa MOGA-MOGA ada peningkatan hasil perolehan).
Dasar hukum pembentukan Koalisi itu apa?.Perolehan suara dan kursi sesungguhnya hanyalah sebagian kecil dari dari syarat-syarat kecil lainnya seperti koalisi Visi dan misi,koalisi kepentingan politik. Jadi sanmgat disayangkan bila terjadi kekirsuhan,kecurigaan atra anak bangsa yang semakin menajam hanya karena DIRANGSANG oleh data hasil survay.
Yang menjadi pertanyaan lainnya yang tidak kalah pentingnya ,bagaimana bila ternya hasil Qc itu ternyata BERBEDA NYATA dengan hasil tabulasi (walau masih TABU utnuk diketahui?). Maksudnya terjadi perbedaan hasil hitungan yang berakibat pada jumlah suara dan bahkan jumlah kursi. Wah.. ini sulit sekali di bayangkan akan jadi apa demokrasi kita ini.
Sangat munghkin DEMOKRASI KEPALA menjelma menjadi DEMOKRASI KEPALAN (tangan-andu jotos-sekarang pun sudah terjadi).
TAUKAH KITA TIDAK USAH MALU-MALU, BAGAI MANA BILA DATA HASIL SURVAY DI LEGALKAN SAJA (BERKEKUATAN HUKUM). Karena NAyatanya tidak ada yang protes hasil QC ini (entah tidak mprotes karena tahu atau karena Bleng dan Blong...!!). Kita tidak perlu munafik. Memang Demokrasi ini perlu jelas batas D E M A R K A S I N Y A. Demokrasi yang jelas ARAHNYA (apa demokrasi TERPIMPIN yang telah kita buang di TONG SAMPAH kita HARUS PUNGUT kembali??). Ini menjadi penting karena KESAN HARGA MATI dalam negosiasi antar KOALISI sungguh mendasari hasil QC ini.
Memang kedepan kita perlu mencari dan menemukan bentuk demokrasi kita sendiri.Demokrasi ala Indonesia. Perlu kejelasan MODAL-MODEL,MODUL dan MODUS demokrasi yang BERNYALI (Nyali ke Indonesiaan)........Bersambung!!!!!!!!!!!
OLEH :
MAX UMBU
Hal lainnya yang patut dipertanyakan dari proses QC ini,tanpa bermaksud kita menampik kemampuan dan pengetahuan lembaga survay itu adalah :
1. Besaran sampel/contoh
2. Jenis sampel
3. Tingkat akurasi/deviasi/error (sungguh berani 1 %?)
4. Analisa keragaman-termasuk sumber data/sortir data dasar. Dari mana data dasar di peroleh LSI? Yang kita tahu berdasarkan pengakuan dari KPU/DEPDAGRI.
Timbul pertanyaan: Bila hasil Qc di anggap benar/dapat diterima, apakah itu berati data dasarnya benar (termasuk sumber data,bagaimana mendapatkan data,dengan apa mendapatkan data?) .Sebab yang menarik adalah BILA DATA DPS dan DPT itu betul/faktawi sudah mengalami MUTILASI,CANGKOKAN atau istilah apapun namanya ,mungkinkah hasil QC dapat di percaya????. Ataukah kebenaran itu hanya didasarkan pada keberhasilan historical semata (PILKADA dan PEMILU 2004?.) Apakah pengalaman yang secuil inikah yang dimaksud dengan kebenaran???. Cilakanya ats bantuan media masa terutama media TV,pembentukan OPINI yang gencar terus nmmencecar para pemirsa dan bahkan POLITIKUS pun TERMAKAN hasil survay ini. Ini sangat amat mengenaskan,bagaimana para caleg yang terhormat dan para pemimpin parpol ,termasuk pembinanya, mempercayai 100 % (sec tidak resmi ) mendasarkan diri pada hasil QC.
HAsil Qc inilah yang menjadi pemicu dan pemacu awal kekirsuhan dan kegaduh politik di tanah air.Dengan dasar itu pula Partai politik dan para politikus mulai melakukan RONDA POLITIK. Bagi-bagi kuweh, koalisi sini,koalisi sana,blok sana sini sambil TERUS BERHARAP (berdoa MOGA-MOGA ada peningkatan hasil perolehan).
Dasar hukum pembentukan Koalisi itu apa?.Perolehan suara dan kursi sesungguhnya hanyalah sebagian kecil dari dari syarat-syarat kecil lainnya seperti koalisi Visi dan misi,koalisi kepentingan politik. Jadi sanmgat disayangkan bila terjadi kekirsuhan,kecurigaan atra anak bangsa yang semakin menajam hanya karena DIRANGSANG oleh data hasil survay.
Yang menjadi pertanyaan lainnya yang tidak kalah pentingnya ,bagaimana bila ternya hasil Qc itu ternyata BERBEDA NYATA dengan hasil tabulasi (walau masih TABU utnuk diketahui?). Maksudnya terjadi perbedaan hasil hitungan yang berakibat pada jumlah suara dan bahkan jumlah kursi. Wah.. ini sulit sekali di bayangkan akan jadi apa demokrasi kita ini.
Sangat munghkin DEMOKRASI KEPALA menjelma menjadi DEMOKRASI KEPALAN (tangan-andu jotos-sekarang pun sudah terjadi).
TAUKAH KITA TIDAK USAH MALU-MALU, BAGAI MANA BILA DATA HASIL SURVAY DI LEGALKAN SAJA (BERKEKUATAN HUKUM). Karena NAyatanya tidak ada yang protes hasil QC ini (entah tidak mprotes karena tahu atau karena Bleng dan Blong...!!). Kita tidak perlu munafik. Memang Demokrasi ini perlu jelas batas D E M A R K A S I N Y A. Demokrasi yang jelas ARAHNYA (apa demokrasi TERPIMPIN yang telah kita buang di TONG SAMPAH kita HARUS PUNGUT kembali??). Ini menjadi penting karena KESAN HARGA MATI dalam negosiasi antar KOALISI sungguh mendasari hasil QC ini.
Memang kedepan kita perlu mencari dan menemukan bentuk demokrasi kita sendiri.Demokrasi ala Indonesia. Perlu kejelasan MODAL-MODEL,MODUL dan MODUS demokrasi yang BERNYALI (Nyali ke Indonesiaan)........Bersambung!!!!!!!!!!!
OLEH :
MAX UMBU
Jumat, 17 April 2009
Welcome to Facebook! | Facebook - [ Terjemahkan laman ini ] Facebook is a social utility that connects people with friends and others who work, study
Welcome to Facebook! | Facebook
- [ Terjemahkan laman ini ]
Facebook is a social utility that connects people with friends and others who work, study and live around them. People use Facebook to keep up with friends, ...
www.facebook.com/ - 31k - Tembolok - Halaman sejenis
- [ Terjemahkan laman ini ]
Facebook is a social utility that connects people with friends and others who work, study and live around them. People use Facebook to keep up with friends, ...
www.facebook.com/ - 31k - Tembolok - Halaman sejenis
Komentar-komentar web lainnya
http://indonesiafirst.com/2009/04/say-no-to-megawati-on-facebook-was-closed/#comment-3343
Langganan:
Postingan (Atom)
